Inspirator Indonesia

Blog Inspirasi Terbaik di Indonesia

Menghadapi Senior dengan Typical Temperamental

Posted by Abdul Ghani Z pada April 24, 2008

Bagaimana cara anda ketika harus berhadapan dengan orang yang temperament-nya tinggi ?. Pertanyaan mendasar bagi kita karyawan yang masih bekerja dengan status sebagai bawahan. Bos, yang punya sikap / bawaan temperamental kaya gini ini perlu dihadapi dengan cara-cara yang ga biasa pula.

Sebenernya bukan cuma Bos aja yang bisa kita sebut “Senior”. Ini cuma mewakili suatu kondisi dimana kita berada. Dalam keluarga, Kakak adalah Senior bagi adiknya, Orang Tua adalah Senior bagi anak-anaknya, Paman/Bibi adalah senior bagi keponakan-keponakannya. Begitu pula dengan kondisi dan tempat lainnya.

Ada 3 point sikap yang bisa kita jalankan ketika harus berhadapan dengan typical orang yang seperti ini.

1. Stay Silent and Be a Good Listener.

Menjadi pendengar yang baik adalah satu cara. Sikap kita perlu disesuaikan pula dengan siapa kita berhadapan. Dengan Bos di kantor dan Orang Tua dirumah harus ada pembedaan. Karena status secara biologis lebih memberi dampak psikologis. Sebagai orang timur budaya “nurut” apa kata orang tua udah umum berlaku di setiap daerah/suku. Sikap pertama ini adalah sikapyang sangat pasif dan punya kelebihan tidak melebarnya konflik dan akibat yang bakalan terjadi.

2. Communicate

Komunikasikan setiap permasalahan baik itu yang anda sebabkan atau senior anda. Ga jarang senior itu suka mengada-ada. Masalah yang seharusnya ga ada, cuma karena dia kurang suka sama kita malah dibuat-buat. Dengan tujuan agar kita menjadi pesakitan dimata orang lain. Membuat citra kita buruk dan pada akhirnya terbentuk persepsi yang sedemikian. Bahaya !.

Berusahalah untuk mengkomunikasikan dengan baik-baik agar permasalahan yang membuat temperament senior kita naik ke ubun-ubun bisa clear dan ga bias. Karena belum tentu permasalahan yang dia ributin disebabin oleh prilaku kita. Bisa aja karena dia udah punya masalah di rumah dan dia lihat kamu orang pertama yang bisa dia “tembak”. Jadilah……

3. LWC (Leave Without Comment)

Sikap dan pilihan terakhir karena udah sampe pada batas toleransi. Bukan pilihan yang bijak, jadi bersiaplah dengan konsekwensinya. Tapi bukan pula pilihan yang buruk. Klo kita udah merasa jengah dengan sikap senior kita yang bertemperamtal kaya’ gini, perlu juga sekali-kali ditunjukin bahwa sikap dan prilaku senior kita itu udah kelewat batas dan ga semestinya. Beri dia sedikit “tamparan” agar kita bisa kembali ke sikap nomor 2.

Lebih dari itu semua perhargaan dan penghormatan kita kepada senior ga boleh putus. Karena dari merekalah kita bisa berdiri dengan lebih tegar dan berakhlak.

Salam Perubahan !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: