Inspirator Indonesia

Blog Inspirasi Terbaik di Indonesia

Jangan biarkan fikiranmu, MEMBUNUHMU !.

Posted by Abdul Ghani Z pada Mei 8, 2008

Sebagian dari kita, malah mungkin hampir rata-rata dari kita mengalami kesulitan mengontrol fikiran. Kontrol terhadap fungsi yang satu ini seringkali ga terkendali terlebih ketika kita lagi dalam keadaan tertekan. Stress sama kerjaan di kantor, deadline yang udah mepet, tugas kuliah yang mesti dikumpulan besok, macet di jalan sampe berjam-jam, dan lain-lain. Kesemua ini bisa menjadi faktor pemicu hilangnya kontrol terhadap tindakan dan prilaku kita.

Kalo dalam ajaran Islam dianjurkan agar kita memperbanyak istighfar/dzikir menyebut ‘asma Allah. Buat saya sering kali berhasil. Dapat meredam gejolak yang bentaran lagi mo meledak.

Self Control menjadi sangat penting karena sebagai individu yang bermasyarakat terlebih bagi kita yang kesehariannya selalu berinteraksi dengan banyak orang dan pastinya akan banyak pula karakter bawaannya. Ada yang enak diajak ngobrol, ada yang nyebelin dan ada juga yang aneh (ga nyambung ketika kita ajak bicara).

Pengaruh dari suasana fikiran dan kebiasaan kita berfikir malah ga bisa dilepasin dari lingkup self control itu tadi. Bisa dibilang udah menjadi satu bundel yang ga bisa dipisahin. Alam fikiran kita terbentuk dari kebiasaan kita berfikir. Kalo kita biasa berfikir negatif dengan sendirinya, setiap masalah yang timbul/datang selalunya ditanggapi dengan respon negatif. Curigaan,ga percayaan sama orang, berfikir klo orang selalu punya niatan ngejatuhin dia dari jabatannya dan sebagainya.

Tapi kalo kita terbiasa untuk berfikir positif, selalu menanggapi setiap masalah dan turunannya dengan ikhlas dan pasrah akan membawa dampak yang cukup besar. Kita jadi bisa lebih enteng nangepin apapun komentar miring/ga enak yang kita denger, sikap optimistis makin bertambah, dan lebih percaya bahwa apapun kejadian yang menimpa tentu punya makna dan maksud dari Sang Pengatur Kehidupan. Istilah kerennya Pasti Ada Hikmahnya !…..

Biasakanlah berfikir positif karena itu lebih sehat buat kita, keluarga kita, karir kita, hidup kita. Dan pada akhirnya reward yang kita dapat jauh lebih bermanfaat dan tak ternilai harganya.

Salam Perubahan !

Ditulis dalam keluarga | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

Outstanding Personality

Posted by Abdul Ghani Z pada April 25, 2008

Saya punya temen yang secara personality menurut pendapat saya biasa-biasa aja. Dari segi yang lainnya juga ga terlalu beda dengan temen saya yang lainnya. Tapi yang menarik perhatian saya adalah dia selalu menjadi acuan atau orang yang paling dicari-cari ketika temen-temen saya yang lainnya perlu input tentang bagaimana seharusnya bersikap/mengambil keputusan terhadap masalah yang mereka hadapi. Saya termasuk salah satu orang yang pernah berkomunikasi dengan dia. Dan emang bener, nasihatnya/masukannya sungguh sangat membantu saya. SALUT !.

Saya mencoba untuk memperhatikan dan mempelajari kenapa temen yang satu ini dengan yang lainnya seperti punya pembeda yang cukup kentara. Dalam keseharian, pembawaannya sederhana- ga ngoyo. Ngomongnya seringkali asal ngucap (ceplas-ceplos). Tapi binar matanya sangat tajam dan terkadang saya merasa dia bisa membaca isi hati saya. Mudah-mudahan aja ga. Soalnya saya ga pernah ngetest dia tentang yang satu itu.

Personality semacam ini bukan personality yang eksklusif dalam artian cuma dia yang bisa punya sedangkan yang lainnya ga’. Permasalahannya adalah ini bukan suatu bentuk/hasil dari pembelajaran/ pembiasaan dalam keluarga. Tapi merupakan suatu bentuk anugrah dari Yang Maha Kuasa kepada mahluknya. Jadi otoritas untuk memberi dan tidak memberi sehingga menjadi demikian adalah hak mutlak Allah S.W.T.

Pertanyaan-pertanyaan akan timbul ketika kita memberikan pembanding kenapa temen kita lebih punya kelebihan seperti itu padahal kita yang udah mati-matian berusaha agar bisa lebih menarik perhatian temen kita untuk “berbicara” atau berkonsultasi dengan kita tetap aja ga menampakan adanya perubahan seperti yang kita harapin. Tetap aja kita menjadi orang yang membosankan !. Ga menarik. Kurang enak di ajak bicara.

Sementara temen kita yang sepertinya nyantai-nyantai aja malah ga pernah sepi dari kunjungan “pasien” yang mo berkonsultasi. Dengan pengertian temen kita itu jadi orang yang lebih dibutuhkan dan dicari ketimbang kita sendiri.

Daya tarik yang memang ada dalam diri setiap individu bisa dibentuk dengan suatu pembelajaran dan ada pula yang sudah menjadi bagian dari pribadi orang-orang tertentu. Ini merupakan satu bentuk “gift” yang kita kenal dengan anugrah. Mempunyai daya tarik seperti temen saya itu merupakan sebuah anugrah. Dan anugrah itu tidak bisa diperdebatkan.

Perlu dicatat bahwa setiap orang terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila anda merasa termasuk dalam kategori orang-orang yang sering mempertanyakan kekurangan yang anda miliki ketimbang mensyukuri kelebihan anda. Itu semua cuma sekadar fokus cara anda berfikir.

Sekali lagi, setiap orang terlahir dengan kekurangan dan kelebihan.

Salam Perubahan !

Ditulis dalam keluarga | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

Menghadapi Senior dengan Typical Temperamental

Posted by Abdul Ghani Z pada April 24, 2008

Bagaimana cara anda ketika harus berhadapan dengan orang yang temperament-nya tinggi ?. Pertanyaan mendasar bagi kita karyawan yang masih bekerja dengan status sebagai bawahan. Bos, yang punya sikap / bawaan temperamental kaya gini ini perlu dihadapi dengan cara-cara yang ga biasa pula.

Sebenernya bukan cuma Bos aja yang bisa kita sebut “Senior”. Ini cuma mewakili suatu kondisi dimana kita berada. Dalam keluarga, Kakak adalah Senior bagi adiknya, Orang Tua adalah Senior bagi anak-anaknya, Paman/Bibi adalah senior bagi keponakan-keponakannya. Begitu pula dengan kondisi dan tempat lainnya.

Ada 3 point sikap yang bisa kita jalankan ketika harus berhadapan dengan typical orang yang seperti ini.

1. Stay Silent and Be a Good Listener.

Menjadi pendengar yang baik adalah satu cara. Sikap kita perlu disesuaikan pula dengan siapa kita berhadapan. Dengan Bos di kantor dan Orang Tua dirumah harus ada pembedaan. Karena status secara biologis lebih memberi dampak psikologis. Sebagai orang timur budaya “nurut” apa kata orang tua udah umum berlaku di setiap daerah/suku. Sikap pertama ini adalah sikapyang sangat pasif dan punya kelebihan tidak melebarnya konflik dan akibat yang bakalan terjadi.

2. Communicate

Komunikasikan setiap permasalahan baik itu yang anda sebabkan atau senior anda. Ga jarang senior itu suka mengada-ada. Masalah yang seharusnya ga ada, cuma karena dia kurang suka sama kita malah dibuat-buat. Dengan tujuan agar kita menjadi pesakitan dimata orang lain. Membuat citra kita buruk dan pada akhirnya terbentuk persepsi yang sedemikian. Bahaya !.

Berusahalah untuk mengkomunikasikan dengan baik-baik agar permasalahan yang membuat temperament senior kita naik ke ubun-ubun bisa clear dan ga bias. Karena belum tentu permasalahan yang dia ributin disebabin oleh prilaku kita. Bisa aja karena dia udah punya masalah di rumah dan dia lihat kamu orang pertama yang bisa dia “tembak”. Jadilah……

3. LWC (Leave Without Comment)

Sikap dan pilihan terakhir karena udah sampe pada batas toleransi. Bukan pilihan yang bijak, jadi bersiaplah dengan konsekwensinya. Tapi bukan pula pilihan yang buruk. Klo kita udah merasa jengah dengan sikap senior kita yang bertemperamtal kaya’ gini, perlu juga sekali-kali ditunjukin bahwa sikap dan prilaku senior kita itu udah kelewat batas dan ga semestinya. Beri dia sedikit “tamparan” agar kita bisa kembali ke sikap nomor 2.

Lebih dari itu semua perhargaan dan penghormatan kita kepada senior ga boleh putus. Karena dari merekalah kita bisa berdiri dengan lebih tegar dan berakhlak.

Salam Perubahan !

Ditulis dalam Psikologi Karir | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Bagaimana Menangani Konflik Dalam Keluarga ?

Posted by Abdul Ghani Z pada April 23, 2008

Dalam sebuah keluarga selalu ada aja masalah berkaitan dengan individu-individu yang ada.

Pernah ga merhatiin atau ngalamin kondisi dimana Keluarga A dengan jumlah personil yang bejibun (banyak) dan keluarga B dengan jumlah personil yang lebih sedikit mempunyai tingkat permasalahan yang jauh berbeda ?. Keluarga A, sepertinya adem ayem aja. Semua bisa berjalan dengan baik tanpa ada konflik. Sementara di Keluarga B malah sebaliknya. Kondisi menjadi ga terkontrol, personil yang ada malah berprinsip “semau gw”. Konflik sepertinya siilh berganti dengan daftar tunggu yang ga terputus. Datang dan datang dan datang…..

Ketika berbicara mengenai penanganan konflik atau masalah dalam lingkup keluarga. Peran serta orang tua sebagai panutan menjadi sangat krusial. Pemahaman tentang nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab menjadi salah satu kunci dari makin rumitnya persoalan yang dihadapi.

Mengaca pada kondisi dua keluarga diatas, kondisi keluarga A lebih terkontrol sedangkan kondisi keluarga B tidak terkontrol. Salah satu dasar dari sebuah konflik dua keluarga itu adalah kurangnya penanaman prilaku “berbesar hati”.

Berbesar hati mengakui ketika kita salah kepada siapapun tanpa melihat asal, status apalagi urutan senior-junior.

Berbesar hati menerima hasil dari suatu kompetisi dimana ada pemenang pastinya ada yang kalah.

Berbesar hati memberi kelebihan harta untuk membantu sesama.

Berbesar hati untuk melakukan dialog tanpa harus menjadi otoriterian.

Dan seterusnya…. seterusnnya… seterusnya…..

Inti dari semua adalah kemauan untuk mengakui juga memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat/terjadi dan menjadikannya sebuah pembelajaran agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab dalam menghadapi setiap masalah.

Ditulis dalam keluarga | Dengan kaitkata: , , , | 1 Comment »

Proses

Posted by Abdul Ghani Z pada April 22, 2008

Habis gelap terbitlah terang.

Habis siang datanglah malam.

Habis rusuh datanglah tenang.

Dan seterusnya….

Kalo kita mo tengok, sebenernya kejadian-kejadian yang pernah kita alamin selalu datang dalam dua pasang alias bergantian. Dalam keseharian kita semua itu selalu dateng silih berganti. Kesiapan dalam menyongsong ato menjalaninya sangat berpengaruh pada hasil akhir dari cerita. Bisa berakhir Endah Abis ! atau sebaliknya : Ancur Abis !.

Diantara awal dan akhir dari cerita ada proses. Justru proses itulah yang seharusnya jadi perhatian kita ketimbang hasil akhir. Alurnya selalu awal-proses-akhir, ga pernah nemui’in kebalikannya. Anda pernah ?

Orang yang menghargai sebuah proses adalah orang besar tidak sekedar kontekstual tapi riil.

Karena suatu pencapaian / prestasi tidak di raih dengan sekejap mata, perlu proses yang bertahap dan usaha yang tak kenal lelah. Mari ber-PROSES.

Sukses untuk Anda !

Ditulis dalam Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.